
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan terakhir hingga ditutup melemah ke level 8.900. Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat bergerak di zona hijau pada awal sesi. Namun berbalik arah akibat meningkatnya tekanan jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pelemahan IHSG dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global. Salah satu penyebab utama adalah aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan investor setelah IHSG sebelumnya mencatatkan penguatan dan mendekati level psikologis 9.000. Kondisi ini mendorong investor untuk merealisasikan keuntungan, sehingga tekanan jual tidak terhindarkan.
Selain itu, saham-saham sektor energi dan komoditas menjadi pemberat utama pergerakan IHSG. Penurunan harga beberapa komoditas global menyebabkan saham emiten energi mengalami koreksi cukup dalam, yang berdampak langsung terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar global juga turut memengaruhi pelemahan IHSG. Pergerakan bursa saham di kawasan Asia yang cenderung melemah membuat investor bersikap lebih hati-hati. Ketidakpastian terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih menjadi perhatian utama pelaku pasar, terutama terkait kemungkinan penundaan penurunan suku bunga acuan.
Tekanan lainnya datang dari pergerakan nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya biaya impor dan tekanan inflasi, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham.
Meski demikian, analis menilai pelemahan IHSG ke level 8.900 masih tergolong koreksi wajar dalam tren jangka menengah. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid, ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat serta kinerja emiten yang relatif stabil.
Ke depan, pelaku pasar diimbau untuk mencermati rilis data ekonomi global dan domestik, serta pergerakan harga komoditas. Investor juga disarankan tetap selektif dalam memilih saham dan menerapkan strategi investasi sesuai profil risiko masing-masing.